Perjalanan untuk Pilih Bicara
Dibuat oleh :
Sarah Muthiah Widad
Tipe : tulisan

Aku berada di ruang tengah rumah. Duduk di kursi kayu setengah kokoh. Jika begerak sedikit membenarkan posisi duduk terdengar "krekeeek". Rupanya kursi kayu minta diistirahatkan. Tapi enyahlah, sang pemilik memaksakan untuk tetap digunakan.


Ini pukul dua siang. Kulihat ke arah jendela, masih sama. Pohon belimbing tersipu angin. Daun-daunnya bergerak syahdu. Aku mengenduskan nafas. Punggungku semakin bersandar pada kursi kayu kesayangan Ayah. Aku menatap pas foto yang berada 100 derajat dari sebelah kanan posisi dudukku. Ada Ibu, Ayah, dan kedua saudara perempuanku. Aku tersenyum mengikuti bentuk bibirku yang merakah di foto yang terpampang. "Ayah.." panggilku lirih dalam hati.

"Tok..tok..tok.." dengan cepat aku mengalihkan pandangan kembali ke jendela. Tepat sekali, aku sangat menunggunya datang. Aku melambaikan tangan ke arahnya, menutup buku yang kubaca dua jam lamanya, dan bergegas ke luar rumah menemuinya.

"Hai, Va. Sekarang waktunya kamu belajar dari kenyataan yang ada. Setelah kamu belajar dari literasi yang kamu baca." Aku mengangguk penuh semangat. "Asik, ini akan menjadi hal yang seru!" gumamku dalam hati. Ia memegang tanganku erat. Membawaku berjalan menyusuri gang kecil perkampungan.


"Lihat, Va," katanya sambil menunjuk laki-laki setengah baya yang memakai kaos dalam putih dan celana pendek. "Dia adalah teman kantorku yang di PHK akibat pabrik sudah menggunakan mesin dan pengurangan tenaga kerja," lanjutnya.

"Itu anaknya?" tanyaku. "Benar, itu anaknya. Kau perhatikan anak kecil itu kurus dan kering setelah bapaknya kerja serabutan." Aku memandang lamat-lamat seorang Ayah dan anak laki-laki kecilnya sedang bermain. Si Ayah sibuk dengan aktivitas pembakaran benda kecil penghasil asap.

Tanganku kembali digenggam dan  kembali berjalan. Kini aku berhenti di depan warung yang tidak jauh dari sekolah. "Kenapa  mengajakku ke sini?" Namun, ia hanya terdiam menatapku tajam dan mengangkat kedua bahunya.


Aku memperhatikan warung yang terdapat spanduk rokok  di atasnya. Tidak lama kemudian, segerombolan anak yang masih memakai seragam SMP menghampiri warung tersebut. Mayoritas adalah anak laki-laki. "Apa yang mereka lakukan?" aku bergumam. Mereka mengumpulkan uang receh dan beberapa lembar uang kertas dua ribuan. Setelah memberikan uang kepada penjual, mereka mendapatkan sebungkus rokok. Orang di sampingku merangkul bahu dan tersenyum.

"Jadi aku belajar apa? hanya diajak menyusurui jalan dan sekarang ke warung?" tanyaku penasaran. "Apakah kamu melihat hal yang tidak beres selama perjalanan ini?" ia balik bertanya. Aku menggeleng kepala tanpa sepatah kata dari mulutku. Rasanya aku ingin pulang saja meneruskan duduk di kursi kayu membaca buku.

Sekarang aku berjalan di belakangnya. Berjalan dengan tangan terlipat di atas dada. Mata menyeringai sinis sambil mulut tidak berhenti menggerutu. Panas sekali siang ini.

"Apa lagi ini? menunggu angkutan umum? mau ke mana lagi? Ah, membosankan!" batinku. "Ayo, Va kamu duluan masuk mobil," ia mempersilakanku masuk ke dalam angkutan umum hijau yang tidak terlalu ramai penumpang.


Di dalam mobil, ada seorang ibu menggendong anak kecil. Di sampingnya pemuda yang asik mengembang kempiskan dadanya menikmati setiap hisapan dan hembusannya. Aku refleks menutup hidung mengamankan agar tidak ada asap yang masuk ke dalam tubuhku. Ibu yang berada di hadapanku mengibas-ngibaskan tangan melindungi anaknya dari asap.

"Kiriiiii"
"Ayo kita turun di sini." Aku keluar dan berdiri lesu menunggunya membayar ongkos. Ia kembali meraih tanganku dan mengajakku kembali berjalan ke suatu jalan yang sepi. "Kamu ingat tempat apa ini, Va?" ia kembali angkat bicara tetapi aku hanya menggelengkan kepala.

Aku melihat sekeliling. Di depan pandanganku jalan yang lebih luas dari gang perkampungan yang sebelumnya kami telusuri. Tapi jalannya penuh bebatuan dan beberapa berlubang. Ada pohon mangga, pohon pisang, rerumputan, ilalang, dan pohon sepatu dengan bunganya berwarna merah cerah. Ada pagar kayu juga yang membatasi suatu lahan khusus.

"Kamu ingat tempat ini, Va?" ia kembali bertanya. Aku terdiam, seperti ingat sesuatu. Suaranya kali ini mengecil. Aku melihat wajahnya berubah pucat pasi. Kali ini tidak angkat suara bukan karena kesal, namun rasanya tak sanggup membuka mulut. "Pelajaran apa yang kamu dapatkan hari ini, Va?" ia memecahkan lamunanku. Suaranya semakin kecil. Lidahku semakin kelu dan kaku seperti ada yang mengikat sangat kuat.

Tiba-tiba saja kakiku bergemetar sangat dahsyat. Keringat membanjiri leher dan rahang atasku. Terasa aliran keringatnya sampai punggung. Lawan bicaraku berjalan tanpa memegang erat tanganku lagi. Ia berjalan melewati pintu kayu yang terbuka. Aku berlari kecil mengikuti langkah kakinya. Lariku semakin cepat dan keringat semakin deras membasahi bajuku. "Tunggu!" teriakku. Tetapi ia tak berhenti berjalan. "Tunggu!" teriakku lirih bercampur bibir yang bergemetar menahan tangis.

"Ayah.. aku mengerti. Aku mengerti, Ayah!" ucapku. Sosok laki-laki di depanku membalikkan tubuh tersenyum begitu hangat seperti senyum pada pas foto di ruang tengah. "Ayah, aku akan berhenti membisu, Ayah," lanjutku.

Ayah tidak bersuara sedikitpun. Ia menghilang dari hadapanku secepat kedipan mata. Sekarang, yang berada di hadapanku adalah tanah merah dibubuhi bunga yang semakin mengering serta berdiri papan kayu terukir nama Ayah.

"Ayaaaaaaaah" aku menangis penuh sesal. Ada sesak dalam dada. Seperti ada dendam menggumpal dalam hati. Aku terbangun dari tidur. Pegal sekali tertidur di kursi kayu tua ini. Aku kembali membenarkan posisi duduk. Di atas pahaku masih ada buku yang menemaniku menunggu ibu pulang kerja.

Pipiku basah, ternyata banjir air mata. Aku mengusap dengan telapak tangan. Mimpi bertemu Ayah membuat aku menangis seperti ini. Rindu sekali rasanya. Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Tidak lama aku mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Aku melanjutkan baca buku pada lembaran yang terbuka.



"Menteri Kesehatan menggagalkan penerbangan ke Jenewa, Swis pada tahun 2003  untuk menandatangai perjanjian FCTC karena kondisi politik yang memanas di akhir kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri."

"Va, Kamu kok gak sambut Ibu pulang?"
"Eh, Ibu sudah pulang." Aku meletakkan buku di atas meja langsung memeluk ibu dan dibalas dengan pelukan hangat.

"Ibu, apakah kanker yang diderita Ayah karena rokok?" tanyaku pada Ibu masih dalam pelukannya. Ibu tidak menjawab, ia membalas dengan mengelus kepalaku. Aku samakin menangis.

Hari menjelang malam. Aku hendak menutup pintu kamarku lalu membuka buku harian dan pulpen merah bertinta hitam. 'Aku pilih bicara' tulisku pada lembar kosong. Pelajaran dari mimpi siang tadi sangat jelas sekarang. Rokok adalah masalah yang dianggap biasa oleh masyarakat. Benar kata Ayah, buku Giant Pack of Lie yang aku baca harus direalisasikan dengan tindakan. Kenapa tadi aku memilih diam? Sungguh aku menyesal.


Cerita Fiksi ini merupakan bentuk keresahan yang aku atau banyak orang alami. Ketika melihat orang merokok dekat anak-anak, melihat anak sekolah membeli rokok entah untuk mereka atau disuruh orangtuanya, melihat orang merokok di tempat umum menjadi pemandangan yang biasa saja. Hal yang dianggap 'gak papa'. Tapi ternyata itu adalah masalah kita semua. Kalau dipikir-pikir jika kita berani bicara merupakan bentuk kasih sayang karena kita menjaga kesehatan mereka dan melindungi mereka dari jeratan industri rokok. Semoga kita berani untuk #pilihbicara.