Bebasnya Rokok Racuni Generasi Penerus Bangsa
Dibuat oleh :
Janitra Hapsari
Tipe : tulisan

Masih cukup segar dalam ingatanku ketika ayah memintaku untuk membelikan rokok di warung dekat rumah saat aku masih seusia anak SD. Beliau memberiku uang sebesar 20 ribu rupiah dan membiarkan aku membeli jajanan yang aku suka dengan sisa uang rokok itu. Aku pun berjalan kaki menuju warung dan ku temui seorang nenek pemilik warung tersebut. Setibanya di sana, aku menyebutkan merk rokok dan jumlah isinya persis seperti pesan ayahku. Nenek itu pun mengambilkan sebungkus rokok sesuai pesananku. Dengan mudahnya aku mendapatkan rokok itu dan tenang saja saat membawa sebungkus kotak berisi racun itu di dalam genggaman tanganku. Dengan senang hati, aku membawanya pulang ke rumah dan memberikannya kepada ayahku. Tak lama setelah itu, beliau langsung membukanya dan mengambil rokok sebatang, lalu diisapnya rokok itu sambil menonton televisi atau mengetik di depan laptopnya.

Begitulah ceritanya. Jika aku melihat kembali diriku di masa itu, aku merasa seperti melihat anak kecil yang begitu polos mematuhi permintaan orangtuanya untuk membeli rokok. Ia tidak memikirkan bagaimana barang yang kecil itu dapat menimbulkan penyakit kronis, bahkan hingga kematian. Ia tidak pula mempertanyakan mengapa orang dewasa dengan begitu mudah membiarkannya mendapatkan sebungkus penuh rokok yang mengandung 7000 zat berbahaya di setiap batangnya. Meskipun itu terjadi pada 10-15 tahun yang lalu, namun kondisi saat ini belum banyak berubah.

Masih banyak anak-anak yang dengan mudahnya mendapatkan sebungkus rokok, bahkan dalam bentuk batangan. Regulasi rokok yang harusnya diperbolehkan untuk remaja di atas 18 tahun, kenyataannya dijual secara bebas tanpa memandang usia. Menurut Global Youth Tobacco Survey tahun 2014, usia perokok pemula di Indonesia paling banyak bermunculan di usia 10-14 tahun. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi merokok pada usia 10-18 tahun meningkat menjadi 9,1% daripada tahun 2013 yaitu 7,2%. Tentu saja fenomena ini menjadi masuk akal karena akses rokok yang sangat longgar mengakibatkan para penjual merasa bukanlah sebuah masalah untuk menjual rokoknya pada anak-anak dan remaja. Akibatnya, anak-anak dan remaja pun beranggapan bahwa rokok adalah produk konsumsi yang normal seperti layaknya makanan dan minuman ringan lainnya. Lingkungan masyarakat yang terlalu bebas seperti ini sebenarnya sangat membahayakan generasi muda baik dari segi kesehatan fisik maupun psikis.

Jika dibiarkan, rokok akan menjadi bagian dari gaya hidup mereka tanpa memerlukan waktu yang lama. Nikotin akan membuat otak menjadi kecanduan tanpa kita tahu kapan itu bermula. Longgarnya regulasi penjualan rokok merupakan satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi tingginya konsumsi rokok pada anak-anak dan remaja. Belum lagi upaya industri rokok yang terus menarik konsumen baru melalui iklan, promosi, dan sponsor rokok. Keluarga miskin tampaknya masih sulit untuk terlepas dari jeratan rokok karena menurut Susenas, Maret 2019, belanja rokok pada keluarga miskin masih menempati urutan kedua setelah beras. Anak dari keluarga miskin yang orangtuanya merokok juga kerap menjadi korban karena orangtua lebih mengutamakan membeli rokok daripada makanan yang bergizi untuk anaknya. Industri rokok tentu menyadari hal ini, mengingat distribusi produk mereka yang begitu gencarnya dan menjangkau hingga ke warung-warung kecil di pedesaan.

Pertanyaannya, sampai kapan rokok dapat terjual secara bebas? Mengingat pihak yang mendapat keuntungan terbesar dari hasil penjualan tersebut adalah para pemilik perusahaan rokok, sedangkan para konsumennya terus berjatuhan karena penyakit akibat rokok? Dampak yang diakibatkan konsumsi rokok yang bebas tidak sekadar berhenti di kecanduan nikotin saja.

Kecanduan rokok dapat menimbulkan masalah lain seperti penyakit dan turunnya kualitas kesehatan tubuh manusia. Semakin muda seseorang mulai merokok, semakin panjang usia paparan asap yang masuk ke tubuhnya. Racun yang tertumpuk di dalam paru-paru, pembuluh darah, dan organ tubuh lainnya dapat mengganggu metabolisme tubuh yang berakibat pada berbagai penyakit. Mulai dari penyakit pernafasan, penyakit jantung, kanker, dan bahkan satu penyakit yang hanya muncul akibat perilaku merokok yaitu Buerger’s disease, yaitu ketika racun dari rokok merusak area organ tubuh kita yang mengharuskan bagian tubuh tersebut diamputasi. Penurunan kualitas hidup akibat rokok diukur dari hilangnya tahun produktif yang hilang karena sakit dan kematian prematur yang jika dijelaskan dengan angka mencapai sebesar 4.180,27 triliun rupiah (Hasil penghitungan badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes) yang artinya adalah sepertiga dari PDB dan seperlima dari APBN. Tentu ini sebuah angka yang fantastis.

Kemajuan negara sangat ditentukan oleh kualitas SDM-nya. Jangan sampai negara tampak mempermainkan manusia-manusia yang berpotensi luar biasa dengan tidak memperketat regulasi lebih dari yang ada saat ini. Salah satunya adalah dengan mengaksesi FCTC, yang bertujuan untuk meregulasi rokok secara komprehensif dari segi penggunaan dan penjualannya, serta melindungi perokok pasif dari bahaya asap rokok.

Ayahku merokok sejak beliau kelas 5 SD. Uniknya, Ibu beliau juga merokok. Ayahku mendapatkan rokok dari ibunya. Rokok adalah teman ayah sejak kecil. Ayah sempat berhenti merokok di tahun 2011 setelah menunaikan ibadah haji. Pada saat itu ayah juga baru mengethaui bahwa ia mengidap diabetes. Namun, beliau merokok lagi setahun kemudian. Hingga bulan April 2019 ini, ayah harus berhenti merokok karena pada saat itu beliau tiba-tiba merasa tidak enak badan dan perlu dibawa ke rumah sakit. Singkat cerita, ternyata Ayah didiagnosis stroke ringan. Beliau juga sempat dirawat di ICU selama beberapa hari karena divonis terkena serangan jantung ringan. Beliau menjalani 3 kali opname dan di antaranya sempat mengalami infeksi paru. Ayah mengalami batuk-batuk berdahak dan dahaknya berwarna coklat tua. Namun, syukur, kini ayah sudah jauh membaik dan hampir pulih stelah 3 bulan menjalani perawatan dan terapi. Akan tetapi, bukan hanya waktu saja yang terbuang. Beliau masih terhitung aktif sebagai dosen dan sedang menjalani studi S3. Ayah hampir menyelesaikan studinya. Namun 4 hari sebelum konferensi desertasinya, beliau jatuh sakit dan desertasi itu tertunda hingga sekarang. Beliau yang seharusnya masih produktif justru kehilangan masa-masanya karena harus memulihkan diri dari sakit. Usia beliau kini memasuki 60 tahun. Beliau suka dan rutin melakukan olahraga bulu tangkis setiap minggu serta gemar memakan makanan sehat yang mengandung banyak sayuran. Pun hal itu tidak dapat menghindarkan dari sakit akibat racun rokok yang ada di dalam tubuh. Sesuai anjuran dokter, Ayah pun berhenti merokok karena sakit, pun hingga hari ini. Aku pun sadar, betapa beruntungnya ayahku masih dapat berjuang hingga saat ini. Semoga ayah lekas sehat lagi.

*penulis: cerita ini berdasarkan kisah nyata.

Rokok bukanlah barang normal untuk dikonsumsi maka dari itu penjualannya perlu dibatasi. Tidak perlu lagi ada anak muda yang tertipu oleh jerat industri rokok. Merokok akan merengkuh kebebasanmu, kesehatanmu, dan juga kebahagiaan orang-orang di sekitarmu, cepat atau lambat. Jika seseorang sudah terkena candu rokok, semua hanya tinggal menunggu waktu. Maka dari itu, saya #PilihBicara, sebagai bentuk dukungan saya agar dibuat regulasi dan implementasi yang lebih ketat untuk penjualan rokok di Indonesia demi melindungi anak-anak dan remaja, sebagai generasi penerus bangsa, dari bahaya asap rokok.

 


Penulis ingin berbagi kisah pengalaman masa kecilnya di mana ia sering dimintai tolong ayahnya untuk membelikan rokok. Kisah ini dikaitkan dengan situasi Indonesia saat iniyang masih longgar dalam meregulasi penjualan rokok yang nantinya dapat meracuni generasi penerus bangsa jika tidak segera ditindak lanjuti.