Lintingan Tembakau di Antara Jari Remaja
Dibuat oleh :
Rizky Wulan Ramadhani
Tipe : tulisan

Aku Rizky Wulan Ramadhani, aku berasal dari Jepara, salah satu kabupaten kecil yang ada di Jawa Tengah. Mungkin tidak banyak yang tahu tentang Jepara, kecuali fakta bahwa Kartini lahir di kota dengan segudang ukiran itu. Aku hidup di Jepara dari lahir sebelum memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Selama Aku hidup di Jepara banyak hal yang aku temui terutama tentang bagaimana dekatnya rokok dengan remaja.

Aku sekolah di salah satu SMA yang bersebelahan dengan SMK. Di dekat sekolah kami terdapat tempat nongkrong yang hampir setiap hari penuh dengan remaja berseragam putih abu-abu yang tidak lain dari SMAku dan SMK samping sekolahku. Aku sering lewat tempat itu setiap pulang sekolah, dan aku melihat teman yang aku kenal, sebut saja X, duduk di sana dengan asap yang mengepul dari mulutnya.

Esok harinya, aku duduk di kursi depan kelasku saat X berteriak dari dalam kelasnya dengan selembar kertas di tangannya. Mungkin selembar kertas itu adalah formulir yang aku juga dapatkan. Kemudian si X duduk di samping temannya untuk meminjam bolpoin karena dia tidak punya benda untuk menulis itu. Seketika aku berfikir, bukankah dia kemarin merokok? Dia pasti beli rokok itu dengan uang kan, tapi kenapa membeli bolpoin saja tidak mampu? Bukankah dia pelajar, tapi kenapa rokok lebih penting daripada sebuah bolpoin?

Pemikiran itu membuat aku sedikit peka soal keberadaan rokok yang justru lebih penting dari sebuah bolpoin, mungkin juga lebih penting dari sebuah buku, mungkin juga lebih penting dari pendidikan atau bahkan mungkin juga lebih penting dari masa depan. Aku pulang naik bis, dan selama perjalanan aku mengamati keadaan sekitarku, kemudian aku semakin sadar betapa rokok sudah menjadi bagian dari remaja.

Aku melihat remaja dengan seragam SMA dengan beraninya merokok di tempat yang tidak jauh dari sekolahnya. Ada pula remaja dengan santainya mengendarai motor dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang rokok untuk ia hisap. Ada pula remaja dengan seragam SMP berkumpul di warkop sembari merokok dengan mudahnya. Dan saat bisku berhenti di halte, di sana penuh anak SMP yang seakan lupa dengan status mereka, merokok sembari mengobrol layaknya orang dewasa.

Anak SMP dan SMA harusnya masih di bawah pengawasan. Mereka memiliki keluarga dan guru yang bisa menjadi gardu terdepan mereka untuk jauh dari rokok. Tapi nyatanya, banyak juga keluarga mereka yang merokok dan guru-guru—termasuk guru di SMAku—merokok di depan anak muridnya. Dan mungkin itulah alasan kenapa remaja begitu dengan rokok. Rumah dan sekolah seharusnya menjadi tempat untuk menjauhkan remaja dari rokok namun justru menjadi tempat yang memberi kebebasan remaja untuk dekat dengan rokok.

Karena pada dasarnya, remaja dengan orangtua yang tidak merokok, juga cenderung untuk tidak merokok. Remaja dengan lingkungan sekolah yang tidak merokok, maka memiliki kecenderungan untuk tidak dekat dengan lintingan tembakau itu. Namun jika nyatanya remaja—khususnya remaja Jepara—dengan seragam sekolah dengan mudah merokok tanpa perduli dengan statusnya, maka sistem pendidikan—khususnya di Jepara—patut dipertanyakan peran dan fungsinya.


Tentang rokok, remaja dan Jepara