Papa
Dibuat oleh :
Angel Permata Jauhari
Tipe : tulisan

Papa adalah sosok yang selalu aku hormati. Dengan Papa, aku tidak hanya belajar Bahasa Inggris dan Matematika. Lebih dari itu, Papa mengajakku untuk tidak takut bermimpi. Papa bilang anak-anaknya adalah harapannya. Papa selalu mengusahakan yang terbaik untukku dan adik-adik. Alhamdulillah, berkat dorongan sejak kecil dari Papa, aku bisa menggapai mimpi masa kecilku, seperti kuliah di kampus idaman, mengikuti perlombaan ilmiah, dan mewakili Indonesia untuk sebuah konferensi.

 

Waktuku banyak kuhabiskan bersama Papa bahkan hingga aku kuliah semester 7 ini. Sayangnya, keadaan mulai tidak baik-baik saja sejak Papa jatuh sakit beberapa tahun terakhir. Papa berkali-kali masuk ke ruang rawat inap rumah sakit karena kebiasaan merokok akut yang dimilikinya.

 

But he still unstoppably smokes, every day.

 

Kemarin ketika akhirnya aku pulang ke rumah, aku melihat Papa kembali dengan sebatang rokok yang sudah beberapa hari beliau tinggalkan karena sakit. Di antara kebulan asap, aku datang menghampiri Papa. Aku datang tidak hanya sebagai seorang anak, namun juga sebagai seorang perempuan yang beranjak dewasa, yang sudah bisa menilai mana yang baik dan buruk untuk diriku, juga kesehatan Papaku.

 

Aku memberanikan diri untuk bicara, 

 

Papa, Papa selalu bilang jangan takut bermimpi kan ya Pah?

 

Kakak punya mimpi, kuliah pascasarjana

 

Bekerja di kementerian atau kedutaan

 

Mengajar

 

Menerbitkan buku

 

Punya anak-anak hebat

 

Dan di setiap mimpi itu, kakak harap ada Papa di sana

 

Ada Papa sama Mama waktu kakak wisuda

 

Ada Papa di pernikahan kakak

 

Ada Papa di kelahiran anak-anak kakak

 

Ada Papa, dan Papanya sehat..

 

Papaku terdiam.

 

Biasanya setiap pulang ke rumah, aku hanya diam ketika Papa terlihat merokok di teras. Sekali dua kali, ada suara batuk yang berkelanjutan datang dari Papa, yang masih sambil merokok. Aku terbiasa khawatir dalam diam. Kalau Papa mengeluh sakit, aku dan Mama hanya menemani ke rumah sakit, tanpa berani memprotes kebiasaan merokok Papa. Aku sadar, aku salah. Aku beranikan diri untuk memilih bicara, karena kapan lagi?

 

Papa juga sadar ini sudah salah. Saat itu, Papa hanya meminta satu hal dariku, yaitu mendukungnya untuk berhenti merokok secara perlahan. Aku menjawag sanggup, tanpa tapi.

 

 


Obrolanku dengan Papa yang sudah 33 tahun merokok.